
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
-
-
-
Setiap detik waktu beresonansi dengan detak jantungku seiring mengalunnya sebuah lagu maha karya W.R Supratman: Indonesia Raya. Bahkan mungkin symphony no.40 karya Mozart pun tak lebih penting di hadapan’nya’.
Ketika lantunan lirik penuh makna itu tertangkap indera pendengaranku, aku merasakan sesuatu : rindu. Rindu yang membuncah di sudut hatiku. Sungguh, awalnya aku tak mengerti kenapa.
Dan aku mencoba mencari penyebabnya. Mengobrak-abrik alam bawah sadarku, berharap menemukan ‘sesuatu’ di sana. Tapi tak kutemukan jua.
Hhhh…
Aku ingat, selalu ingat. Semenjak di sekolah dasar hingga sekarang—duduk di bangku sekolah menengah atas, selalu ada waktu yang disisihkan untuk mendalami—memahami satu pelajaran: Pendidikan Kewarganegaraan. Dan aku juga tak akan bisa lupa jika Negara ini bernama Indonesia. Dasar Negara ini adalah Pancasila dan UUD 1945.
Tentu saja. Tapi sebenarnya, bukan semua itu inti masalahnya.
Di seluruh penjuru negeri ini, dari Sabang sampai Merauke; Pancasila terdiri 5 sila. Tak ada yang berbeda.
Hari senin kami awali rutinitas khas : Upacara Bendera. Berbaris tertib di tengah lapangan, melawan rasa malas yang begitu kuat melanda. Saat bendera dikibarkan, kami mengangkat tangan—memberi penghormatan kepada sang Saka Merah Putih yang begitu agung. Dan lagi-lagi lantunan syair “Indonesia Raya” terucap dari bibir kami.
Sejenak kami mengheningkan cipta, mengenang para pahlawan yang telah gugur demi bahan bendera, demi membebaskan negeri ini dari belenggu para penguasa—penjajah. Demi harga diri bangsa, cita-cita bangsa.
Pembukaan Undang-undang dasar dibacakan dengan suara lantang. Sebuah cerminan tujuan—cita-cita bangsa yang terkandung di dalam sana yang sudah kami hafal di luar kepala. Juga saat Pancasila—kelima silanya kami ucap ulang bersama-sama, seolah tengah bersumpah di hadapan-Nya.
Tapi bukan itu.
Bukan hanya itu.
Tidak cukup dengan upacara bendera yang hanya menjadi rutinitas belaka—keharusan; kewajiban; bahkan mencapai sebuah titik puncak : keterpaksaan.
Sungguh ironis.
“Indonesia Raya” yang kami nyanyikan bersama mengiringi penaikan bendera menuju tiang tertinggi, pembukaan UUD yang kami dengarkan, pelafalan Pancasila, mengheningkan cipta; semua tak ada artinya. Kenapa? Kenapa semua itu hanya seperti angin lalu; bahkan tak sedikit orang yang tak menghargai saat Sang Merah Putih berkibar di tiangnya.
Non sense.
Lalu, apa gunanya?
Aku mendengar celotehan kakak sepupuku yang menuntutkan ilmu di Australia :
“Tau nggak, nong, saat kakak mendengar ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan di sini, rasanya kakak kangen… sekali. Sampai-sampai tanpa kakak sadari, kakak menangis dalam diam. Kakak rindu. Kakak rindu saat-saat upacara bendera di sekolah dulu, kakak rindu mendengar ‘Bagimu Negeri’ yang kadang kita nyanyikan dengan nada asal-asalan. Rasanya berdosa sekali. Tapi aku sungguh merindukan Indonesia…”
Tidakah kita tahu, betapa sulitnya mengibarkan bendera kita (dulu), para pejuang mempertaruhkan segalanya untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Dan mereka menyanyikan “Indonesia Raya” dengan berurai air mata.
Lalu apa yang salah dengan kita?
Hati—perasaan. Kita tidak melibatkan fungsi emosional saat menjalani’nya’. Meresapi segala makna upacara itu sendiri; bukan hanya kuantitas—tapi kualitas.
Seberapa sulitkah? Apakah semudah mengucapkannya?
Melakukan sebuah perubahan memang sama sulitnya seperti menjilat sikut sendiri. Tak perlu perubahan yang signifikan. Sedikit demi sedikit melakuakan perubahan lebih baik daripada tidak sama sekali, ‘kan? Everybody can change.
Aku telah menjelajahi seluruh penjuru dunia lewat dunia maya. Aku menemukan banyak hal di luar sana. Betapa megahnya Inggris, betapa berkuasanya Amerika, betapa kerennya Korea Selatan, betapa besarnya China, betapa menakjubkannya Jepang di mataku.
Tapi satu hal yang tak pernah ku lupakan—tak pernah bisa—tak pernah mau.
Aku adalah rakyat’mu’. Aku ada untuk mengabdi pada’mu’. Sejauh apapun aku pergi, pada akhirnya aku akan selalu kembali kepada’mu’.
Aku ada untuk selalu mencintai’mu’.
Sayup-sayup ku dengar alunan lembut melody yang taka sing di telingaku. Sebuah nada yang sanggup membuat mataku berkaca-kaca—menangis haru.
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Kini aku mengerti. Aku mengerti rasa rindu yang membuncah di sudut labirin hatiku yang kosong—meminta untuk diisi. Kini aku temukan bayangan itu. Sebuah rasa cinta yang begitu besar. Sebuah keinginan untuk mengabdi dan mewujudkan cita-cita bangsa ini—negeri ini. Sebuah kebanggaan menjadi Indonesia. Seperti yang tersirat dalam lirik lagu ini :
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Tak ada yang dapat menggantikan’mu’ di hatiku, selamanya.
n.b : Hanya sebuah—seonggok larik tak seindah karya-karya pujangga. Walau bagaimanapun, ini tetap karyaku dan aku harus bangga ☺.
PAHLAWAN
Secercah harapan ku lihat
Aku tahu tujuanmu,
Aku tahu harapanmu
Apapun yang aku lakukan
Aku harus sadar
Bahwa inilah yang menjadi pilihanmu
Sebuah harapan kembali menari
Walaupun harus kau tebus
Dengan jiwa raga
Meskipun merah di tubuhmu itu darah…
Haruskah aku menyesal
Atas kepergianmu…?
Haruskah aku sia-siakan
Harapan dan anganmu?
Aku tahu tujuanmu,
Aku tahu harapanmu
Apapun yang aku lakukan
Aku harus sadar
Bahwa inilah keinginanmu, inilah harapanmu
Haruskah aku berhenti sampai di sini?
Haruskah aku abaikan perjuanganmu
Ataukah apa???
Jika waktu dapat ku putar kembali
Mungkin kau akan menyesal
Ataukah aku salah…?
Aku tahu pengorbananmu
Meski hanya namamu yang tertinggal
Meski kini hanya harapanmu yang ada
Aku tahu keinginanmu
Aku harus mewujudkan harapanmu
Dengan pengorbananku…
(Untuk pahlawan yang telah berjuang untuk negeriku…)
Cherry Blossom




















